Prolog Yubileum : 50 TAHUN INJIL MASUK DI BOMELA

 Di Kota Rotterdam, di sebuah Gedung besar Bernama Gedung Ahoy yang dapat memuat kurang lebih 2.500 orang. Gedung Dimana biasanya digunakan untuk mengadakan pameran dan kongres. Dalam primitive kondisi Papua yang jauh dari peradaban perkembangan setara perhari ini. Pada hari itu, tepatnya tanggal 15 Februari 1962, bukan para pebisnis atau peserta kongres yang memenuhi isi Gedung itu, tetapi para jemaat Gereja Gereformeerde Gemeenten yang sekarang disebut Zending Gereformeerde Gemeenten (ZGG). Hari bersejarah, dalam mengusung misi pemberitaan Injil ke daerah yang tidak dikenal, daerah dimana orang-orang hidup dalam peperangan, hidup dalam penyembahan berhalla, hidup dalam otoritas kegelapan.

 Diantara kurang lebih 2.500 orang yang hadir dalam sebuah Gedung di Rotterdam, salah satu orang yang duduk di kursi depan dengan mimpi besar menjelajah belahan dunia yang terkecil dan terpelosok. Tidak lain adalah Papua, Lembah Bion, Lembah Landi, Lembah Lulum, Lembah Ei, Lembah Sain, Lembah Yamil.

Satu tahun setelah pengutusan, Pendeta Gerrit Kuijt mengarungi seluas samudera nan jauh dari negeri biru dengan menumpangi Kapal Oranje menuju  Pulau menyerupai burung Kasuari, yang adalah Papua. Dengan menempu perjalanan Panjang, jalan berliku, dalam misi ketidakpastian tapi dalam rancangan Sang Pencipta. Tepat 28 Oktober 1963 lilin penuh makna, Cahaya abadi terbit di Lembah Bion, Pass Valley.

Dari Pass Valley, Injil berkembang ke Landikma, Nipsan, dan Langda. Tepat 13 tahun setelah terang Injil itu bersinar di Pass Valley. Tuhan memakai Pendeta Gerrit Kuijt  Pada tanggal 26 Mei 1976, hari yang dikehendaki Tuhan. Dalam anugerah Tuhan, atas dasar Jalan Salib, terang Injil menembus sejuta belengku dosa. Kehidupan orang Bomela kala itu hidup dalam otoritas gelap. Tidak menantikan Cahaya Injil itu masuk di Lembah Sain. Tapi atas anugerah keselamatan yang dikumandangkan di Bukit Golgota, dengan tanda Kematian Yesus diatas kayu salib dan tabir Bait Allah terpecah, keselamatan diumumkan bagi bangsa-bangsa lain, bangsa diluar dari bangsa Pilihan Allah, Israel. Kami orang Bomela, orang Papua adalah dalam bangsa tidak menantikan keselamatan.

Sejak Injil masuk di Bomela, pemberitaan Injil terus berjalan, terus berkembang dan pembentukan jemaat terjadi. Kini pos Bomela sudah menjadi klasis, dan membentuk 6 jemaat induk dan 3 jemaat baru. Atas dasar Injil, kemudian pelayanan aspek Pendidikan, Kesehatan dan bidang-bidang lain terus berjalan.

Hari ini, peradaban itu kami merayakan, perayaan itu ditandai dengan Tugu Injil Masuk berbentuk salib. Kontruksi bangunan bermakna teologis dan filosofis sejalan dengan perkembangan pendirian jemaat di Klasis Bomela. Pagar keliling dengan 9 tiang yang diatas tiang dipasang lampu. Tugu berbentuk salib yang diwarnai warna putih kristal dan pondasi salib dibuat tangga naik 9 sisi. Diatas pondasi salib ditaruh Alkitab terbuka dengan 2 teks yaitu Matius 6:33 dan Yakobus 5:16b. Luas pembangunan tugu 4x4 meter dari luas total area lokasi tugu. Tinggi Salib 6 meter yang berdiri diatas dasar tangga 9 persegi.

Hari ini, hari dimana seluruh jemaat di Klasis Bomela bersyukur, karena Tuhan membuat segalanya Indah. Buah pemberitaan Injil itu sudah nyata, dan akan terus berkembang dari waktu ke waktu.


Master of Ceremony (MC)

Panuel Maling, ST

Komentar